Senin, 18 Januari 2021
No menu items!

AUHM Minta Keadilan Pembatasan Jam Malam

Headline

Warga Blok 10 Perumnas Antang Kembali Mengungsi Akibat Banjir

Sebanyak 129 jiwa warga di Blok 10 Perumnas Antang, kembali mengungsi di Masjid Jabal Nur akibat banjir.

Jenazah Korban Sriwijaya Asal Makassar, Disambut Isak Tangis Keluarga

Isah tangis mewarnai kedatangan jenazah Ricko Maluhette di rumah duka jalan Puri Asri Raya No 11 Tello, Kota Makassar, Sabtu (16/1/2021).

Data Basarnas: 45 Orang Meninggal Dunia Akibat Gempa Sulbar

Data Basarnas Mamuju mencatat, 45 orang meninggal dunia, akibat gempa susulan yang mengguncang Mamuju dan Majene Sulawesi Barat (Sulbar).

LAYAR.NEWS, MAKASSAR РAsosiasi Usaha Hiburan Malam (AUHM) menpersoalkan aturan pembatasan jam operasional bagi pengusaha, yang saat ini hanya boleh buka hingga pukul 19:00 WITA saja.

Ketua AUHM Kota Makassar, Zulkarnain Ali Naru mengatakan, pembatasan jam operasional dinilai tidak adil. Sebab, AUHM hanya buka pada malam hari saja.

“Kita kan bukanya malam. Kalau dibatasi sampai jam tujuh, habislah kita,” ujarnya, Sabtu (9/1/2020).

Zul mengatakan, selama ini pemerintah berdalih ada dana kompensasi yang diberikan untuk pelaku sektor pariwisata. Akan tetapi, dana hibah tersebut tidak menyentuh ranah AUHM.

“Kita tidak tersentuh dana hibah. Yang dapat itu cuma hotel dan restoran saja,” jelasnya.

Padahal, Zul mengaku, selama ini pihaknya selalu taat pajak. Bahkan biaya operasional seperti pembayaran listrik, air, dan sebagainya tidak pernah mendapat relaksasi. Sehingga, beban pengeluaran mereka semakin berat.

Belum lagi, ada sekitar 4.000 karyawan yang harus tetap menerima upah. Jika usaha mereka tidak buka, maka ancaman gulung tikar sudah terpampang di depan mata.

Zul berharap, pemerintah kota bisa mempertimbangkan lebih jauh jika mereka ingin memperpanjang aturan pembatasan jam operasional atau PSBB. Selain itu, mereka juga minta dilibatkan dalam membuat keputusan.

“Kejelasan ekspektasional harus jelas. Solusinya apa? Ada subsidi dan kompensasi untuk pekerja atau tidak? Kita juga harus dilibatkan dalam pembahasan, soalnya yang tau dapurnya kita ya kita sendiri,” harapnya.¬†

“Kita taat pajak. Biaya operasional tidak turun. Kalau tidak ada kompensasi, ya sudah, kita pasti mati,” tambahnya.

Dengan begitu, Zul menegaskan, jika memang pemerintah kota Makassar ingin membuat keputusan penutupan lebih lama, maka mereka meminta sejumlah keringanan agar usaha mereka bisa terus berlanjut.

“Kita minta keadilan saja lah. Kalau Rumah Bernyanyi, bisa buka pagi sampai malam. Karaoke bisa buka jam 10 sampai 2 malam. Terus Bar bisa buka jam 12 sampai jam 3 atau 4 saja. Kita akan ikuti itu,” tegasnya.

Selain itu, jika memang Pemkot ingin memberikan pembatasan pengunjung, maka seharusnya ada Satgas Covid yang ditempatkan di setiap outlet Tempat Hiburan Malam (THM).

“Pembatasan jumlah pengunjung masih relatif. Kalau memang dibatasi, harus ada satgas yang stanby di sana,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Layar Terkini

Warga Blok 10 Perumnas Antang Kembali Mengungsi Akibat Banjir

Sebanyak 129 jiwa warga di Blok 10 Perumnas Antang, kembali mengungsi di Masjid Jabal Nur akibat banjir.

Berita Terkait