fbpx
No menu items!

Bagaimana Hukum Kawin Kontrak dalam Islam? Simak Ulasannya

Promo

LAYAR.NEWS – Istilah kawin kontrak mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kawin kontrak atau nikah mut’ah adalah menjalin hubungan pernikahan dengan rentang waktu tertentu.

Menikah adalah sesuatu yang halal dalam Islam, tapi bagaimana dengan kawin kontrak?

Ternyata dalam Islam kawin kontrak dinilai sebagai negosiasi zina, sehingga tidak sah pernikahan bila ada batas waktu. Sementara pernikahan menjadi sesuatu yang suci dalam agama Islam.

Allah Subhana wata’ala (SWT) berfirman dalam Al-Quran Suarah Az-Zariyat ayat 49:

وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”.

Dalam Islam, menikah dapat meneruskan keturunan umat Muslim yang kelak akan lebih memberikan manfaat terhadap ajaran Islam.

Ustaz Khalid Basalamah, MA melalui Channel Youtube Islam Hanya 1 pada Senin (21/6/2021) mengatakan bahwa:

“Tidak boleh seseorang nikah dengan jangka waktu tertentu. Nikah mut’ah itu, negosiasi zina ini. Enggak sah pernikahan bila ada batas waktu,” ujarnya dikutip dari Okezone.

Syariat Islam jelas melarang pernikahan mut’ah atau kawin kontrak karena tidak sejalan dengan tujuan utama pernikahan yaitu membina rumah tangga hingga ajal menjemput.

Sementara itu, dikatakan oleh Ibnu Hazm bahwa nikah Mut’ah adalah nikah dengan batasan waktu tertentu dan hal ini dilarang dalam Islam.

Nikah mut’ah ini pernah diperbolehkan pada masa Rasulullah dan kemudian Allah menghapuskannya melalui lisan Rasul-nya untuk selamanya sampai hari kiamat kelak. Dari Ali bin Abi Thalib RA berkata:

“Rasulullah SAW melarang nikah Mut’ah dan juga daging keledai peliharaan pada masa perang khabir”.

Dari Ibnu Abbas RA, dia mengatakan sebenarnya nikah mut’ah itu ada hanya pada awal masa Islam. Ada seseorang mendatangi suatu negeri yang asing baginya. Lalu dia menikahi seorang wanita penduduk asli negeri tersebut dengan perkiraan bahwa dia akan tinggal di sana dan wanita yang dia nikahi bisa menjaga serta mengatur barang-barang dagangannya. Karena itu, turun firman Allah yang artinya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, Ibnu Abbas melanjutkan, semua kemaluan selain dua kemaluan tersebut, maka hukumnya adalah haram. (HR Ath-Thabrani).

Baca berikutnya: Persiapan Idul Adha, Ini Tips Memilih Hewan untuk Kurban

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkini

Danny Tegaskan Soal Aturan Berkendara Saat PPKM Level IV

Danny Pomanto menegaskan aturan perjalanan selama PPKM Level IV di Makassar hanya menyasar pada transportasi umum.

Populer

Berita Terkait