No menu items!

Hijrah, Tinggalkan Zona Nyaman ke Bisnis Non Riba

Layar.news – Bisnis warung kopi (warkop) bagi Muhammad Nawir adalah pilihan utama setelah memutuskan untuk hijrah mendekatkan diri ke sang pencipta.

Pemilik Warkop Basda (Baso Daeng) Jl. Palm Merah ini sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan pembiayaan leasing mobil di Kota Makassar. Ia bahkan dipercaya menduduki jabatan kepala cabang.

Bagi seorang yang bekerja di perusahaan pembiayaan, apalagi menduduki jabatan, tentu memiliki penghasilan dan tunjangan yang lumayan besar.

Tapi, pada tahun 2015 lalu ia tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkan semua itu. Berhenti dari pekerjaan dan menganggur.

Baca Juga:

“Saya berhenti dari pekerjaan itu. Saya menganggur sambil mencari inspirasi serta peluang untuk mendapatkan reseki yang baik atau membuka usaha,” ujar Erwin sapaan akrabnya ke Layar.news, Minggu (20/9)2020.

Penyebab Berhenti

Sebelumnya, pada 2014 lalu, Erwin bertemu dengan seseorang pria. Baginya orang itu cukup memiliki pemahaman agama yang luas.

Beberapa kali bertemu, pria yang belakangan diketahui adalah seorang perwira polisi itu sering menyampaikan dakwah ke Erwin terkait reseki halal dan bahaya riba.

Sesampai di rumah, usai menerima pesan dakwah, Erwin selalu kembali merenungi kata-kata pria tersebut. Sesekali ia mencoba membuka “Google” untuk menelusuri dalil ataupun hadist terkait riba. Hal tersebut cukup mengganggunya. Makin penasaran, ia malah makin intens bertemu sang “ustaz”.

“Rasa penasaran bikin saya terus mau ketemu pak ustaz itu. Saya merasa selama ini sudah banyak makan riba. Ternyata dosanya besar,” ungkap Erwin.

Akhirnya ia memantapkan diri untuk menjauhi riba. Keputusan terberat yakni meninggalkan pekerjaan yang sudah ia geluti lebih 1 dekade tersebut.

Membuka Warkop

Selama 6 bulan menganggur Erwin lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar meracik kopi.

“Ustaz pernah menyampaikan ke saya, usaha paling baik itu ada di minyak atau kopi. Maka saya pilih untuk mendalami kopi,” ujarnya.

Merasa mantap dan siap secara finansial, akhirnya pada tahun 2015 ia membuka usaha warung kopi pertamanya di Jl. Toddopuli Raya.

Dalam perjalanan membangun usahanya itu, ayah dua orang anak ini tak lepas dari pasang surut. Tapi ia tak berhenti.

Baginya tugas seorang ayah adalah mencari nafkah bagi keluarganya. Mencari penghasilan yang halal adalah bagian dari ibadah. Doa ibu dan dukungan keluarga serta sahabat adalah kekuatan baginya.

Alumni STIMI Manajemen Indonesia ini berprinsip, kesuksesan itu tidak diperoleh sendiri, melainkan ada andil orang lain di dalamnya. Memiliki banyak teman adalah reseki baginya.

“Tanpa teman-teman kita bukan siapa-siapa, saya percaya itu. Intinya jaga hubungan baik dan silaturahmi ta ke orang-orang. Pastikan ibadah nomor satu,” jelasnya.

Erwin tak menyesali keputusannya meninggalkan pekerjaan lamanya itu. Ia kini merasa lebih tenang dan dekat dengan sang pencipta.

Ia mengatakan, urusan penghasilan bergantung pada reseki. Terpenting adalah berusaha dan bersyukur atas apa yang didapatkan hari ini.

“Tuhan memberi kita cobaan agar kita bisa lebih baik kedepannya. Saat ini saya juga lebih bersyukur telah dipertemukan dengan orang-orang baik dan reseki yang makin baik,” tutup pria kelahiran 1980 ini.