No menu items!

Hutan Pinus, Wisata Alam Andalan di Malino

Layar.news – Malino terletak di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulsel. Berjarak sekitar 60 km dari Kota Makassar. Berada di kawasan perbukitan pada ketinggian 1.500 mdpl. Disana terdapat banyak destinasi wisata, salah satunya adalah Hutan Pinus.

Hutan Pinus Malino ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Sulsel. Umumnya mereka datang di akhir pekan.

Hutan Pinus Malino

Di lokasi ini pengunjung akan disuguhi hijaunya pohon pinus tinggi besar yang tumbuh subur.

Baca Juga:

Wisata hutan pinus ini juga sering digunakan sebagai tempat bercamping.

Ada banyak sekali spot foto keren di tempat ini. Tersedia juga jasa penyewaan kuda bagi para wisatawan. Hal ini juga membantu masyarakat sekitar dalam mengais rejeki dan mata pencaharian.

Untuk masuk ke kawasan wisata pohon pinus, pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp5 ribu per orang.

Masuk Hutan Pinus Malino, pengunjung wajib membayar Rp.5 ribu/orang

Di depan pintu gerbang masuk hutan pinus, pengunjung akan mendapati banyak warung makan dan kopi. Beberapa warung bahkan menyediakan jasa penginapan murah.

Udara di Malino juga lumayan sejuk, bahkan bisa dikatakan merupakan terdingin kedua setelah Toraja.

Pada akhir pekan, Hutan Pinus Malino ramai dikunjungi.

Tempat Wisata Sejak Jaman Belanda

Sekedar diketahui, Malino juga terkenal sebagai tempat wisata sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Setelah Gubernur Jenderal Caron pada tahun 1927 memerintah di “Celebes en Onderhoorigheden”, ia telah menjadikan Malino pada tahun 1927 sebagai tempat peristirahatan.

Sebelum memasuki Kota Malino, terdapat sebuah tembok prasasti di pinggir jalan dengan tulisan: “MALINO 1927”.

Tulisan tersebut cukup jelas dan seketika itu pula dapat dibaca setiap orang yang melintas di daerah itu.

Malino 1927 bukan berarti Malino baru dikuasai Belanda pada tahun itu.

Jauh sebelumnya, Belanda sudah berkuasa di wilayah Kerajaan Gowa, terutama pasca-Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667.

Di sini juga pernah diadakan Konferensi Malino yang dilaksanakan pada 15-25 Juli 1946, diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Dr HJ van Mook, untuk membicarakan dan menggagas pendirianNegara Indonesia Timur (NIT).

Juga pernah dilaksanakan, perjanjian perdamaian Malino I dan Malino 2 yang diprakarsai oleh HM Jusuf Kalla.

Baca juga:

Ikuti kami: Facebook, Linkedin, Twitter, Instagram