No menu items!

Kata Pengamat Soal Pembatasan Jam Malam yang Tidak Efektif

Promo

LAYAR.NEWS, MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar masih menerapkan pembatasan jam malam untuk operasional warkop, rumah makan, dan fasilitas umum lainnya. Hal ini bertujuan menekan penularan virus corona.

Sayangnya, kebijakan ini belum ampuh dalam menekan angka Covid-19 di Kota Makassar. Hal ini terlihat dari angka kasus Covid-19 di Kota Makassar yang masih merangkak naik. Bahkan, zona wilayah Kota Makassar masih orange.

Sementara itu, roda perekonomian di Kota Makassar juga terseok karena para pengusaha harus mengalami penurunan pendapatan akibat pembatasan. Selain harus membatasi kapasitas pengunjung, para pengusaha juga menerima kebijakan pembatasan jam malam operasional.

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Hasanuddin, Adnan Nasution mengatakan bahwa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada jam malam sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Ia menjelaskan, yang seharusnya dilakukan adalah memperketat pengawasan protokol kesehatan. Seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak antar pengunjung. Karena menurut Dia, pembatasan malam tidak mempan untuk cegah covid-19 justru menurunkan sisi perkembangan ekonomi.

Baca juga:  Teken Pakta Integritas, Hotel di Makassar Siap Jalani New Normal

“Pengawasannya harus berjalan dengan maksimal dan masif. Kalau hanya memberlakukan jam malam saya pikir itu adalah solusi yang kemudian menurunkan sisi perkembangan ekonomi,” ujarnya saat kepada Layar.News, Rabu (9/6/2021).

Baca juga:  Pintu Masuk Kota Makassar Diperketat

Adnan mengatakan, ia melihat masyarakat sudah mulai membuka maskernya saat masuk ke Warkop dan Rumah Makan dan berbincang sepuasnya, seolah sudah terbebas dari Covid-19. Pengawasan terhadap penerapan protokol kesehatan inilah yang menurutnya harus diperketat.

“Itu yang perlu diperketat dari sekarang. Padahal yang paling baik itu adalah masker tetap dipasang. Saat kita minum dan makan, merokok kita bisa menurunkan sebentar baru dipakai lagi, dan ngobrol tetap harus dipakai,” terangnya.

Menurutnya, orang yang berkeliaran di tempat-tempat umum tidak hanya di malam hari melainkan juga di siang hari. Sehingga memperketat pengawasan penerapan prokes sangat penting.

Sementara itu, lanjut Adnan, meskipun fokus dalam menangani pandemi Covid-19, pemerintah tidak bisa mengabaikan masalah ekonomi masyarakat.

Menurutnya, keduanya masalah ini bisa ditangani bersamaan. Baik penanganan Covid-19, maupun perekonomian masyarakat. Caranya, pengusaha bisa buka pada jam malam bahkan sampai jam 12.00 malam, tetapi dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Roda ekonomi jalan dan covid juga bisa menurun. Pengawasan diperketat, jarak penempatan meja harus diperhatikan. Kalau jam malam diberlakukan itu saya rasa tidak terlalu efektif,” kata dia..

Baca juga:  Temui Danny Pomanto, Kepala BBKSDA Sulsel Bahas Kerjasama
Baca juga:  Berikut 16 Temuan BPK dalam Laporan Keuangan Pemkot Makassar

Adnan menambahkan, aturan PPKM ini sudah lama diberlakukan. Pada masa jabatan Pj Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddim, pemberlakuannya hingga pukul 19.00 malam, namun dilihat dari sisi ekonominya maka dinaikkan hinggga Pukul 22.00 malam.

Pentingnya Peran Satgas Raika Awasi Prokes

Adnan mengatakan pembatasan jam malam sebenarnya tidak perlu, tetapi pengawasan penerapan Protokol Kesehatan yang menjadi penting. Sehingga, peran Satgas Pengurai Kerumunan (Raika) sangat penting untuk mengawasi secara ketat warkop, rumah makan, dan fasilitas umum lainnya.

“Misalnya tim Satgas di Biringkanaya khusus mengawasi warkop dan warung makan, itu di-rolling di setiap Kecamatan. Harus per kecamatan, harus mempunyai tim yang besar di setiap Kecamatan, karena di setiap Kecamatan itu terbagi atas beberapa Kelurahan,” terang Adnan Nasution.

Ia menilai, Satgas Raika sejauh ini belum berjalan efektif. Pasalnya hanya keramaian- keramaian tertentu saja yang diawasi. Padahal, menurutnya banyak tempat-tempat yang juga ramai tetapi jauh dari jangkauan Satgas.

“Tetap harus ada pengawasan seperti di pasar-pasar. Kalau di pasar itu terkadang orang sudah lupa memakai masker, beberapa Pasar tradisional itu mereka hanya memakaikan masker lehernya padahal leher bukan tempat masker,” katanya.

Baca juga:  Makin Ketat, Danny Ubah Aturan Makassar Recover

Keluhan Pengusaha

Pemberlakuan jam malam diakui pengusaha sangat merugikan. Salah satunya warkop Kopi Batas (KoBa), di jalan Syekh Yusuf no.9-11 Makassar.

Owner KoBa, Andi Irfan Maulana mengungkapkan pendapatan selama pemberlakuan aturan ini sangat menurun drastis.

Baca juga:  RI Tak Selenggarakan Haji 2021, Kemenag: Antrean Makin Panjang

“Kadang ada pembeli, kadang juga tidak ada sama sekali, karena sudah ada pembatasan jam malam,” ujarnya, Rabu (9/6/2021) malam.

Ia berharap, pemerintah segera menekan angka penyebaran Covid dengan program Makassar Recovery, sehingga keadaan kembali normal dan Warkop tidak lagi dibatasi untuk beroperasional.

“Berharap ini akan berjalan lancar, sebagai pengusaha cafe kita maunya keadaan lebih baik lagi,” harapnya.

Baca berikutnya: Kopi Lihaku Punya Menu Baru Mie Kering, Bikin Ngiler

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkini

Jeritan Pemilik Warkop di Tengah Pengetatan PPKM Mikro

Warkop indentik sebagai tempat nongkrong malam hari. Lantas bagaimana nasibnya di tengah pengetatan PPKM?

Populer

Berita Terkait