fbpx
No menu items!
ADVERTISEMENT

Mengenal Quiet Quitting, Perilaku Karyawan yang Hanya Fokus Pekerjaan Utama

Promo

ADVERTISEMENT

LAYAR NEWS — Dalam bekerja, kita pasti mengalami pasang-surut performa. Hal ini disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah kelelahan.

Itu sebabnya, kini banyak pekerja yang mulai menyuarakan untuk menyeimbangkan hidup antara pekerjaan dan aktivitas personal. Para pekerja pun akhirnya hanya fokus menyelesaikan pekerjaan dan kerap menolak jika mendapat tawaran di luar kewajibannya.

Dalam siniar Obsesif musim ketujuh bertajuk “Quiet Quitting”, fenomena ini disebut sebagai quiet quitting.

ADVERTISEMENT

Sayangnya, banyak orang yang menganggap fenomena ini negatif. Ellen, sang host, pun menambahkan, “Banyak stereotip yang bilang kalo quiet quitting ini malas. Jadi, makin ke sini banyak pekerja yang malas.”

Baca juga:  Citizen Report: Prodi Komunikasi UINAM Gelar Pelatihan Reportase English Present

Apa Sebenarnya Quiet Quitting?
Mengutip dari Harvard Business Review, quiet quitting adalah fenomena ketika karyawan hanya fokus mengerjakan pekerjaan utama. Artinya, karyawan akan menolak jika diberi tanggung jawab di luar pekerjaan mereka.

Sayangnya, hal ini justru bisa berdampak pada perusahaan. Sebab, seiring berjalannya waktu perusahaan juga mengalami perkembangan. Jika perusahaan berkembang, artinya mereka harus melakukan dan mencoba berbagai hal untuk mencapai tujuan itu.

ADVERTISEMENT
Baca juga:  Warga Manggala Sebut IAS Tokoh Peduli Masjid

Praktik di lapangan pun tidak akan selalu mulus. Jadi, karyawan yang enggan dan kerap menolak diberi tanggung jawab baru dianggap kurang memiliki komitmen.

Fenomena ini tentu bahaya bagi perusahaan sebab, “Kalo sebagian pekerja terus-terusan melakukan quiet quitting ini, maka bisa saja kita berujung ke keputusan resign.”

Penyebab Karyawan Lakukan Quiet Quitting
Ada beberapa penyebab karyawan melakukan quiet quitting. Pertama, mereka kurang dihargai di tempat kerja. Alhasil, mereka pun enggan melakukan pekerjaan tambahan di luar kewajibannya karena minimnya apresiasi.

ADVERTISEMENT
Baca juga:  Erwin Aksa Jadi Satgas Omnibus Law, Ini Kata Pengamat!

Kedua, banyak orang yang mulai peduli dengan kesehatan mental sehingga pembahasan work-life balance pun semakin digandrungi. “Jadi, mereka masih mengerjakan jobdesc yang mereka pegang tapi berhenti memilih mental hustle yang bisa membuat mereka burnout,” jelas Ellen.

Di samping itu, melakukan pekerjaan di luar kewajiban kerap diasosiasikan sebagai overwork hingga lembur. Hal inilah yang sangat bertentangan dengan prinsip work-life balance.

ADVERTISEMENT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ADVERTISEMENT

Terkini

Nikmati Liburan Idul Adha dengan NMAX, Diskon Spesial 2 Juta

Semua line up NMAX terbaru dapat pecinta matik premium ini dapatkan dengan promo diskon hingga 2 juta
ADVERTISEMENT

Populer

Berita Terkait

ADVERTISEMENT