fbpx
No menu items!
ADVERTISEMENT

Mengenal Sosok Ulama Penyiar Islam di Sulawesi Selatan

Promo

ADVERTISEMENT

LAYAR NEWS, Makassar – Sejarah Provinsi Sulawesi Selatan menjadi salah satu daerah di nusantara yang penduduknya didominasi umat Islam, tak terlepas dari peran para ulama di masa lampau. Dalam sejumlah catatan penelitian tentang sejarah perkembangan Islam menyebutkan, ulama berkontribusi besar untuk menyiarkan pesan-pesan bijaksana hampir semua belahan tanah kerajaan di Sulsel. 

Dirangkum dari berbagai sumber, terdapat sejumlah ulama dari Minangkabau, Sumatera Barat yang berjasa menyebarkan Islam di Sulawesi, khususnya Sulsel. Meski tak sepenuhnya penjelasan utuh, artikel ini hanya mengulas latar belakang ringkas mengenai tokoh, ulama yang dimaksud. Hingga kini, ada banyak penelitian dan uraian rinci mengenai sejarah perkembangan Islam di Sulsel.

1. Datuk Ri Tiro

ADVERTISEMENT

Datuk Ri Tiro, bernama asli Nurdin Ariyani atau Abdul Jawad dan bergelar Khatib Bungsu, adalah seorang tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan. Ia berasal dari Koto Tengah, Sumatera Barat, dan menjalani pendidikan agama di Kesultanan Aceh. Pada suatu waktu, Sultan Aceh mengutus Datuk Ri Tiro bersama dua rekannya, yaitu Datuk Ri Bandang dan Datuk Patimang, untuk menyebarkan Islam ke Sulawesi Selatan. Perjalanan Datuk Ri Tiro dimulai dengan mendarat di Kedatuan Luwu melalui Teluk Bone. 

Setelah itu, ia mulai berdakwah di wilayah selatan Sulawesi Selatan, seperti Tiro, Bulukumba, Bantaeng, dan Tanete. Dengan tekad yang kuat, Datuk Ri Tiro berhasil mengislamkan beberapa kerajaan di daerah tersebut. Salah satu contohnya adalah Kerajaan Tallo yang dipimpin oleh I Mallingkang Daeng Manyonri. Setelah kerajaan tersebut memeluk Islam, I Mallingkang Daeng Manyonri berganti nama menjadi Sultan Abdullah Awwalul-Islam. Setelah menyebarluaskan agama Islam di daerah-daerah tersebut, Datuk Ri Tiro wafat dan dimakamkan di Tiro, yang sekarang dikenal sebagai Bontotiro, Bulukumba. Makamnya menjadi tempat ziarah bagi masyarakat setempat dan menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.

2. Datuk Ri Bandang

ADVERTISEMENT
Baca juga:  3 Hari ke Depan, Sulsel Berpotensi Cuaca Buruk Kecuali 3 Daerah Ini

Datuk Ri Bandang, yang memiliki nama asli Muhammad Arsyad al-Banjari dan bergelar Khatib Dayan, merupakan salah satu tokoh utama dalam penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan. Ia lahir di Koto Tengah, Sumatera Barat, dan mendapatkan pendidikan agama di Kesultanan Aceh. Bersama dengan Datuk Ri Tiro dan Datuk Patimang, ia diutus oleh Sultan Aceh untuk menyebarkan ajaran Islam ke Sulawesi Selatan. Datuk Ri Bandang memulai dakwahnya di wilayah utara Sulawesi Selatan, termasuk Gowa, Tallo, Maros, Pangkajene, Sidenreng Rappang, dan Wajo. Dengan tekad yang kuat, ia berhasil mengislamkan beberapa kerajaan di daerah tersebut. 

Salah satunya adalah Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung. Setelah I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung memeluk Islam, ia mengubah namanya menjadi Sultan Alauddin. Setelah memberikan kontribusi besar dalam penyebaran agama Islam, Datuk Ri Bandang meninggal dunia dan dimakamkan di Gowa. Makamnya menjadi tempat ziarah yang dihormati oleh masyarakat setempat dan menjadi saksi sejarah penting dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.

Dengan jasa-jasanya, Islam menjadi agama mayoritas di kerajaan Gowa-Tallo pada awal abad ke-17. Kedatangan Datuk Ri Bandang, bersama dua saudara dan rekannya, menjadi titik awal penyebaran agama Islam di wilayah timur Nusantara. Mereka menyebarkan Islam ke berbagai kerajaan seperti Kerajaan Luwu, Kerajaan Gowa, Kerajaan Tallo, Kerajaan Gantarang (Sulawesi), Kerajaan Kutai (Kalimantan), dan Kerajaan Bima (Nusa Tenggara). 

ADVERTISEMENT

Sejak kedatangannya pada akhir abad ke-16, Datuk Ri Bandang dan rekan-rekannya dengan tekun melaksanakan syiar Islam hingga akhir hayat mereka. Mereka mengunjungi dan berdakwah di kerajaan-kerajaan seperti Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng di wilayah timur Nusantara pada masa itu. Keberadaan mereka memberikan pengaruh yang signifikan dalam memperluas dan mengokohkan ajaran Islam di wilayah tersebut. 

3. Datuk Patimang

Datuk Patimang, yang memiliki nama asli Muhammad Zainuddin atau Abdul Qadir dan bergelar Khatib Sambas, merupakan seorang tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan. Ia berasal dari Koto Tengah, Sumatra Barat, dan pernah menuntut ilmu agama di Kesultanan Aceh. Bersama dengan Datuk Ri Tiro dan Datuk Ri Bandang, ia ditugaskan oleh Sultan Aceh untuk menyebarkan Islam ke wilayah Sulawesi Selatan. Datuk Patimang memulai dakwahnya di wilayah timur Sulawesi Selatan, meliputi Bone, Soppeng, Barru, dan Pinrang. 

Baca juga:  Korban Meninggal Imbas Banjir Bandang di Agam Sumbar Jadi 19 Orang

Dengan dedikasi yang tinggi, ia berhasil mengislamkan beberapa kerajaan di daerah tersebut. Salah satunya adalah Kerajaan Bone yang dipimpin oleh La Tenritatta Arung Palakka. Setelah kerajaan tersebut memeluk Islam, La Tenritatta Arung Palakka mengubah namanya menjadi Sultan Ahmad al-Salih Syamsuddin. Setelah memberikan kontribusi besar dalam penyebaran Islam, Datuk Patimang wafat dan dimakamkan di Bone. Makamnya menjadi tempat ziarah yang dihormati oleh masyarakat setempat dan menjadi bukti sejarah dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. 

4. Syekh Yusuf 

Syekh Yusuf, yang memiliki nama asli Yusuf bin Ali al-Maqassari dan bergelar Abu al-Mahasin, merupakan seorang tokoh yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, terutama dalam konteks perjuangan melawan penjajahan Belanda di Sulawesi Selatan. Ia berasal dari Makassar, dan merupakan keturunan dari raja Gowa ke-6, I Tunipalangga. 

Kelahiran Syekh Yusuf terjadi di Gowa, Makassar pada 3 Juli 1626, dan ia juga dikenal dengan nama Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani. Pada saat kelahirannya, ia diberi nama Abadin Tadia Tjoessoep atau Muhammad Yusuf oleh Raja Gowa, Sultan Alauddin, penguasa Gowa pertama yang beragama Islam dan juga kerabat Aminah, ibu Syekh Yusuf.

Syekh Yusuf menempuh pendidikan agama di berbagai tempat, seperti Aceh, Mekkah, Madinah, Yaman, Mesir, dan Turki. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Syekh Yusuf kembali ke Sulawesi Selatan pada tahun 1644 dan menjadi guru agama bagi raja Gowa ke-14, Sultan Hasanuddin. Selain menjadi pemimpin agama, Syekh Yusuf juga terlibat aktif dalam perlawanan melawan upaya kolonial Belanda untuk menguasai wilayah Sulawesi Selatan. 

Baca juga:  TP PKK Kota Makassar Gelar Tata Laksana Rumah Tangga

Syekh Yusuf melakukan perjalanan ke Hindia Belanda (sekarang Indonesia) untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Selama di Hindia Belanda, Syekh Yusuf menjalin persahabatan dengan Sultan Ageng Tirtayasa (Abdul Fatah) dari Kesultanan Banten. Untuk mempererat hubungan tersebut, Syekh Yusuf menikahi putri Sultan Ageng. Dari pernikahannya, Syekh Yusuf dikaruniai dua putra yang bernama Pangeran Purbaya dan ‘Abd al-Qahhar.

Pada tahun 1669, ia ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Sri Lanka, Afrika Selatan, dan Banten. Syekh Yusuf wafat dan dimakamkan di Banten pada tahun 1699. Makamnya menjadi tempat ziarah yang dihormati oleh masyarakat setempat dan menjadi bukti sejarah penting dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Ia dikenal dengan gelar Tuanta Salamaka ri Gowa oleh pendukungnya di kalangan rakyat Sulawesi Selatan.

5. Syekh Abdul Rauf Singkel

Syekh Abdul Rauf Singkel, salah satu murid dari Syekh Yusuf, merupakan tokoh penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di Sulawesi. Beliau berasal dari Singkil, Aceh, dan kemudian pindah ke Sulawesi untuk menyebarkan agama Islam. Syekh Abdul Rauf Singkel berfokus pada dakwah di wilayah barat Sulawesi Selatan, mencakup Mandar, Majene, Polmas, Mamasa, dan Mamuju. Dengan tekad dan dedikasi yang kuat, ia berhasil mengislamkan beberapa kerajaan di daerah tersebut. 

Salah satunya adalah Kerajaan Mandar yang dipimpin oleh La Patau Matanna Tikka. Setelah kerajaan tersebut memeluk Islam, La Patau Matanna Tikka mengubah namanya menjadi Sultan Muhammad Said. Setelah memberikan kontribusi besar dalam penyebaran agama Islam, Syekh Abdul Rauf Singkel wafat dan dimakamkan di Majene. Makamnya menjadi tempat ziarah yang dihormati oleh masyarakat setempat dan menjadi saksi sejarah dalam penyebaran Islam di Sulawesi.

Sumber: Tempo.co, Kompas.com, Bulukumbakab.go.id, Kamparkab.go.id dan an-nur.ac.id

ADVERTISEMENT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ADVERTISEMENT

Terkini

Grand Opening Modena Home Center di Rolling Hills Makassar

Modena Home Center membuka cabang baru di Kota Makassar
ADVERTISEMENT

Populer

Berita Terkait

ADVERTISEMENT