fbpx
No menu items!

Mengenal Toxic Positivity, Bisa Picu Masalah Kesehatan Mental

Promo

LAYAR.NEWS – Toxic positivity merupakan kondisi ketika seseorang menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif. Mereka menolak untuk merasakan emosi negatif.

Melihat suatu hal dengan positif memang baik, tapi jika dibarengi dengan menghindari emosi negatif, hal ini justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental.

Melansir Alo Dokter, seseorang yang terjebak dalam toxic positivity akan terus berusaha menghindari emosi negatif, seperti sedih, marah, atau kecewa. Padahal, emosi negatif juga penting untuk dirasakan dan diekspresikan.

Jika dilakukan dalam jangka panjang bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan mental. Diantaranya dapat menyebabkan stres berat, cemas atau sedih yang berkepanjangan, gangguan tidur, penyalahgunaan obat terlarang, depresi, dan PTSD.

Ciri-Ciri Toxic Positivity

Toxic positivity umumnya muncul melalui ucapan. Orang yang memiliki pemikiran yang demikian mungkin bisa sering melontarkan petuah yang terkesan positif, tapi sebenarnya merasakan emosi yang negatif.

Selain itu, ada beberapa hal yang menandakan seseorang sedang terjebak di dalam toxic positivity, antara lain:

  • Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya sedang dirasakan
  • Terkesan menghindari atau membiarkan masalah
  • Merasa bersalah ketika merasakan atau mengungkapkan emosi negatif
  • Mencoba memberikan semangat kepada orang lain, tapi sering disertai dengan penyataan yang seolah meremehkan, misalnya mengucapkan kalimat “jangan menyerah, begitu saja kok tidak bisa”
  • Sering mengucapkan kalimat yang membandingkan diri dengan orang lain, contohnya, “kamu lebih beruntung, masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu”
  • Melontarkan kalimat yang menyalahkan orang yang tertimpa masalah, misalnya ‘Coba, deh, lihat sisi positifnya. Lagi pula, ini salahmu juga, kan?”

Mungkin, mengucapkan kalimat positif untuk menguatkan diri sendiri atau sebagai rasa simpati terhadap masalah orang lain. Namun, bukan berarti boleh terlalu positif hingga mengabaikan emosi negatif. Apa pun yang berlebihan itu tidak baik, begitu pula dengan sikap dan pikiran positif.

Selain dari ucapan, media sosial juga dapat memicu toxic positivity. Secara tidak sadar, media sosial membuat tiap orang berlomba-lomba untuk menunjukkan sisi terbaik dari kehidupan masing-masing. Ketika melihat orang lain yang hidupnya tampak lebih sempurna, mungkin kita akan menjadi lebih mudah sedih dan terpuruk.

Bahkan, ketika sedang merasa sangat sedih sekali pun, sebisa mungkin untuk menutupinya dari media sosial. Hal ini membuat kita menolak segala emosi negatif karena ingin selalu terlihat sempurna, seperti dunia yang ditampakkan di media sosial.

Setelah mengetahui ciri-ciri dari toxic positivity, hindarilah bersikap demikian. Ingatlah! Tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja. Tidak perlu menyangkal kesedihan dan berpura-pura selalu bahagia. Karena kehidupan setiap orang memiliki warna-warninya tersendiri. Ada kalahnya bisa merasa bahagia dan puas, ada kalanya juga bisa merasa sedih dan kecewa.

Baca berikutnya: Cara Menghadapi Pasangan yang Diam Saat Marah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkini

Tipe Teman Toxic yang Perlu Kamu Hindari

Terjebak dalam lingkaran pertemanan yang toxic tentu dapat membawa dampak yang negatif, hingga memicu stres berlebih.

Populer

Berita Terkait