Selasa, 19 Januari 2021
No menu items!

Waktu Habis untuk Kerja? Yuk Ciptakan “Work-Life Balance”

Headline

Warga Blok 10 Perumnas Antang Kembali Mengungsi Akibat Banjir

Sebanyak 129 jiwa warga di Blok 10 Perumnas Antang, kembali mengungsi di Masjid Jabal Nur akibat banjir.

Jenazah Korban Sriwijaya Asal Makassar, Disambut Isak Tangis Keluarga

Isah tangis mewarnai kedatangan jenazah Ricko Maluhette di rumah duka jalan Puri Asri Raya No 11 Tello, Kota Makassar, Sabtu (16/1/2021).

Data Basarnas: 45 Orang Meninggal Dunia Akibat Gempa Sulbar

Data Basarnas Mamuju mencatat, 45 orang meninggal dunia, akibat gempa susulan yang mengguncang Mamuju dan Majene Sulawesi Barat (Sulbar).

LAYAR.NEWS – Terus-terusan fokus pada pekerjaan, tanpa Kamu sadari waktu habis hanya untuk bekerja. Hal ini tentunya tidak baik untuk kehidupan.

Maka, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi ( work-life balance) sangatlah penting. Namun, terkadang menjadi perkara yang tak mudah.

Memberikan yang terbaik untuk pekerjaan memang penting. Tapi bukan berarti harus kehilangan waktu untuk kehidupan pribadi.

Melansir dari Kompas.com, ini beberapa hal yang harus Kamu perhatikan untuk menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Beri Batasan
Baca Juga:

Tetapkan waktu untuk meninggalkan pekerjaan. Jangan lupa beri tahu rekan kerja setim tentang batas waktu tersebut. Ini adalah praktik yang baik karena memberikan tenggat waktu kepada diri sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan.

Dengan begitu, kerja bisa menjadi lebih produktif dan efisien. Kecil kemungkinan untuk kembali bekerja di luar batas waktu yang telah ditentukan.

Memberitahu rekan kerja tentang batas waktu membuat mereka tidak mengganggu kita di luar jam kerja. Sekaligus bisa menciptakan lingkup kerja yang sehat.

Sediakan “Me Time”

“Me time” sama pentingnya dengan waktu untuk pekerjaan, teman, dan bahkan keluarga. “Me time” atau waktu diri sendiri bisa mendatangkan kebahagiaan.

Saat seseorang merasa bahagia, otomatis dalam melakukan apa pun akan menjadi lebih baik. Entah itu untuk pekerjaan, keluarga, maupun rumah.

Sediakan waktu untuk tidur siang, bermain gim, pijat relaksasi, staycation, atau apa pun yang bisa membuat diri sendiri bahagia.

Hindari Multitasking

Banyak orang menganggap melakukan pekerjaan secara bersamaan atau multitasking lebih efisien dan menghemat waktu. Padahal multitasking sebenarnya melelahkan. Bahkan, sering kali perhatian pada setiap pekerjaan tidak 100 persen.

Alih-alih multitasking, lebih baik atur strategi. Misalnya ingin melakukan hobi baru, tapi juga mau luangkan waktu untuk berolahraga dan bertemu teman.

Dapatkan semuanya dengan satu cara, yakni ajak teman untuk ikut serta melakukan olahraga yang belum pernah Kamu coba. Contoh bersepeda atau main sepatu roda.

Buat Acara Sosial Mingguan

Acara sosial mingguan dapat membantu work-life balance. Di tengah pandemi, salah satu yang bisa menjadi pilihan adalah mengadakan pertemuan virtual. Ajak teman atau keluarga untuk bertemu secara virtual dan saling berbagi cerita. Jadwalkan pertemuan itu secara rutin di setiap minggunya.

Lakukan Hobi

Penelitian membuktikan, melakukan hobi atau kegiatan yang disukai membantu menjaga kesehatan mental dan mengurangi stres. Pada gilirannya, hal itu memberi sejumlah manfaat seperti memperkuat hubungan dengan orang lain dan meningkatkan karier. Bila tidak tahu ingin melakukan apa, cobalah menjadi sukarelawan. Membantu orang lain adalah cara yang bagus untuk memberikan kedamaian batin.

Cara ini membuat seseorang terhubung dengan orang lain di luar pekerjaan, menikmati kepuasan hidup yang lebih baik, serta tekanan psikologis yang lebih rendah.

Matikan Notifikasi

Ada kalanya pekerjaan tidak dapat selesai tepat waktu. Boleh saja menyelesaikannya di waktu libur, tapi jangan jadikan sebagai kebiasaan.

Selain itu, cobalah untuk egois dengan mematikan semua notifikasi saat libur akhir pekan maupun ketika cuti.

Usahakan untuk tidak memeriksa email atau menghubungi rekan kerja. Simpan laptop dan menjauhlah sejenak dari pekerjaan.

Jangan juga melakukan pekerjaan lebih awal. Misalnya pekerjaan untuk hari Senin diselesaikan hari Minggu. Cara itu malah bisa menyebabkan rasa lelah.

Sebaliknya, percayalah pada kemampuan, keterampilan, dan rekan kerja untuk menyelesaikan pekerjaan di waktu yang telah ditentukan.

Bersikap Selektif

Sikap selektif di lingkungan pekerjaan sangat diperlukan untuk menerapkan work-life balance. Apabila budaya perusahaan adalah karyawan harus bekerja lembur dan bahkan di akhir pekan, maka sangat sulit untuk mendapatkan work-life balance.

Jika hal itu dirasa tidak sesuai dengan prinsip dan membuat kewalahan, maka carilah perusahaan yang bisa memberikan work-life balance

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Layar Terkini

Warga Blok 10 Perumnas Antang Kembali Mengungsi Akibat Banjir

Sebanyak 129 jiwa warga di Blok 10 Perumnas Antang, kembali mengungsi di Masjid Jabal Nur akibat banjir.

Berita Terkait